Jodoh itu, seperti aku dan IPB

“Sal, rencananya setelah lulus mau kemana?” beribu pertanyaan serupa menghujamku, dan selalu kujawab dengan jawaban “belum tahu”. Padahal saat itu masa-masa indah SMA hanya dalam hitungan bulan lagi, namun aku belum juga memiliki keputusan akan melanjutkan kuliah dimana. Saat itu aku iri dengan temen-temanku yang sudah menetapkan keinginan akan melanjutkan dimana.

Hingga suatu hari seorang guruku bercerita tentang IPB di kelasku dan membuatku tertarik dengan salah satu Universitas ternama tersebut. Sepulang sekolah aku pun langsung mencari tahu tentang IPB di internet, dan aku semakin tertarik karena letak IPB ada di Bogor. Mengapa tertarik? Alasannya memang aneh, karena Bogor kota hujan jadi kupikir Bogor pasti dingin dan pasti sering hujan, hehe maklum aku suka dengan kedua suasana tersebut.

Aku pun lalu bercerita pada ibuku dan mengutarakan maksudku agar aku diperbolehkan berkuliah disana, ibuku pada mulanya menolak dengan sangat tegas.

“Kowe ki cah wedok, nggo opo kuliah adoh-adoh, neng Semarang yo ono universitas kok” (kamu itu anak perempuan, buat apa kuliah jauh-jauh, di Semarang juga ada universitas kok)

“Tapi bu aku pingin sekolah neng kono” (tapi bu aku ingin sekolah disana)

“Opo sih, seng nggawe kowe kepincut sekolah neng Bogor? Bogor ki adoh lho Sal!” (apa sih, yang membuatmu ingin sekolah di Bogor? Bogor itu jauh lho Sal!). aku bingung harus menjawab apa ketika ditanya seperti itu, karena saat itu aku hanya ingin kuliah disana. Itu saja, entahlah aku juga bingung apa sebenarnya yang membuatku tertarik untuk kuliah disana. Kalau kujawab karena aku suka Bogor kota hujan, itu alasan yang tidak masuk akal kan? Hehe. Dan ketika aku mengutarakan niatku berkuliah di Bogor pada bapakku, beliau langsung mendukungku, sehingga dengan berbekal izin dari bapakku itulah aku membujuk ibuku dengan tak kenal lelah.

“Bu, kuliah neng Bogor yo” (Bu, kuliah di Bogor ya) lagi dan lagi aku bertanya pada ibuku

“Emang kowe yakin iso njogo awakmu dewe? Kowe ngko bakal adoh seko wongtuo nek kuliah neng kono” (memang kamu yakin bisa menjaga dirimu sendiri? Kamu nanti bakal jauh dari orangtua kalau kuliah disana)

“Insya Allah iso bu, kan ngko neng IPB tahun pertama diasramakke sek, dadi ora langsung ngekos” (Insya Allah bisa bu, kan nanti di IPB tahun pertamanya diasramakan dulu, jadi tidak langsung ngekos)

“Iyo, tapi kowe ki cah wedok lho Sal, neng kono yo ora ono sedulur” (iya, tapi kamu ini anak perempuan lho Sal, disana juga tidak ada saudara)

“Kan seko Muhi –nama sekolahku- cah wedokke akeh seng melu ndaftar” (kan dari muhi anak perempuannya banyak yang mendaftar)

Hingga pada suatu hari, ibuku akhirnya memberikanku izin juga, Alahmdulillah senang sekali rasanya, meski aku tahu ibuku masih berat memberikan izin itu. Karena sudah mendapatkan izin dari orang tua, aku akhirnya mendaftarkan diri di IPB dengan jalur undangan, saat itu pengetahuanku tentang IPB masih sangat minim, jadi aku belum tahu akan mendaftar di jurusan apa, tetapi pada akhirnya aku memilih jurusan management, karena saat itu aku ingin menjadi seorang pegusaha. Tapi pada saat pendaftaran aku melakukan sebuah kesalahan besar, di kotak pilihan yang seharusnya aku isi dengan dua pilihan jurusan, justru aku isi dengan satu pilihan. Dan yang seharusnya diisi dengan dua pilihan univrsitas aku juga mengisinya dengan satu pilihan saja, karena saat itu aku hanya tertarik dengan IPB. Barulah setelah form selesai aku send, aku menyadari kesalahanku dan berkata pada guru BK, tapi apalah daya jika nasi sudah menjadi bubur, semua tidak dapat dirubah lagi. Saat itu aku benar-benar takut dan berfirasat tidak akan diterima di IPB, ingin sekali rasanya untuk menangis.

Hari berganti hari dan bulan pun juga ikut berganti, hingga akhirnya pengumuman SNMPTN undangan pun tiba. Malamnya, aku diberitahu temanku kalau pengumuman SNMPTN sudah dapat dilihat di internet. Dia menawariku untuk membantu melihat hasilku, aku pun lalu memberikan tanggal lahirku dan nomor pendaftaran yang digunakan sebagai password untuk masuk. Saat itu bagiku waktu berjalan dengan begitu lambat, layar handphone selalu kupandangi karena berharap balasan dari temanku itu secepatnya. Triing! Tanda pesan masuk berbunyi, dengan perasaan tak menentu aku lalu membuka pesan dari temanku itu yang berisi

‘maaf sal, Sania Nala Salma denga nomor pendaftaran ******* belum lolos masuk’

Deg! Dunia rasanya menjadi gelap, karena saat itu memang malam hari, jadi wajar kalau gelap. Aku tidak tahu harus berkata apa dan harus berbuat apa. Karena masih tidak percaya akhirnya aku membuka lagi website pengumuman tersebut, dan hasilnya tetap sama. Aku dinyatakan tidak lolos seleksi masuk undangan ke IPB. Setelah aku mencubit adikku dan dia berteriak kesakitan barulah aku sadar kalau itu semua nyata, aku tidak bermimpi, dan aku benar-benar tidak diterima di IPB! Di keheningan malam itu aku menangis sepuasnya tanpa diketahui orang rumah, aku memang sengaja tidak memberitahu orangtuaku terlebih dahulu karena aku benar-benar takut membuat mereka kecewa padaku, biarlah waktu yang memberikan jawaban pada mereka lewat angin yang berhembus *eeaaa.

Esoknya aku dan semua teman-temanku yang mendaftar undangan berangkat menuju sekolah karena ada pengumuman resmi seleksi undangan di sekolah. Rasanya aku malasss sekali untuk melangkahkan kakiku kesana, namun saat itu aku sudah berbohong ke beberapa orang dengan mengatakan bahwa aku belum tahu-menahu tentang pengumuman itu jadi aku memutuskan untuk tetap berangkat. Sesampainya disana aku langsung menuju ruang BK.

“Kamu sudah tahu belum sal?” tanya guru BK ku. Dan pandangan mataku seolah menjawab

“Aku sudah tahu bu” dan dengan tatapan mata beliau seolah berkata padaku “yang sabar ya Sal, dunia belum hancur. Masih ada banyak jalan menuju Bogor” tanpa ada perintah air mataku langsung mengalir dengan deras, teman-temanku yang saat itu juga ada di ruang BK menatapku dengan tatapan iba, meski saat itu yang tidak lolos juga cukup banyak.

To be Continued ^^

Advertisements

2 thoughts on “Jodoh itu, seperti aku dan IPB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s