Jodoh itu, seperti aku dan IPB (Part 3) –END-

#waah maaf late post dan maaf jika terlalu lama menunggu *kayak ada yang nunggu tulisan lu aja sal -_-
Setelah masa penantian seleksi masuk IPB melalui jalur UTM berakhir, kini tibalah saatnya hari pengumuman itu. Karena hatiku yang saat itu masih mudah terbolak-balik aku juga masih malas untuk melihat hasil pengumuman itu kalau tidak diingatkan oleh Ibu *Astaghfirullah. Aku, Ibu, dan Bapakku melihat hasil pengumuman itu bersama-sama di depan layar komputer dengan perasaannya masing-masing. Setelah terbuka… selamat Sania Nala Salma, anda diterima menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor. Seperti itulah kurang lebih pesan yang tertera disana. Bingung harus seperti apa ekspresiku saat itu. Senang karena telah diterima, atau sedih karena harus pergi jauh dari orang tua. Ibuku justru berkata kepadaku “Loh Sal, diterimo ik Sal, lha piye iki Sal” (loh Sal, diterima ini Sal, lha gimana ini Sal) dengan ekpresi antara bingung, senang, dan mungkin sedih, aku pun hanya bisa mesam-mesem saja.
Karena aku diterima bukan dari jalur undangan, jadi teman-teman sekolahku yang diterima melalui jalur undangan sudah berangkat ke bogor terlebih dahulu sejak sebulan sebelumnya, karena harus mengikuti program matrikulasi terlebih dahulu. Matrikulasi adalah program khusus yang diperuntukkan bagi mahasiswa jalur undangan, mereka akan memulai perkuliahan lebih cepat dibandingkan mahasiswa jalur lain. Aku berangkat ke Bogor ditemani keluargaku (Ayah, Ibu, Adik) dan Omku. Kali ini aku mendapatkan penginapan di dalam kampus. Karena saat hari pertama disana aku masih belum registrasi asrama, jadi aku ikut menginap bersama keluargaku di penginapan. Oh ya, di IPB saat tingkat pertama atau biasa disebut Tingkat Persiapan Bersama (TPB) mahasiswanya diwajibkan untuk berasrama, jadi tidak langsung ngekost. Dan saat TPB kita juga belum masuk ke Departemen sesuai jurusan kita, melainkan harus di kelas TPB yang mata kuliahnya seperti matakuliah SMA (Biologi Umum, Fisika, Landasan Matematika, dll).
Selama dua hari semalam di Bogor, aku dan keluarga tidak sempat untuk jalan-jalan karena Omku harus cepat-cepat pulang karena ada agenda yang menanti, jadi selepas mengantarkanku registrasi di asrama, dan membeli barang-barang kebutuhan asrama serta meletakkan barang-barangku di sana, orang tuaku pamit pulang. Sediiiihhh sekali rasanya 😥 apalagi harus menahan agar bendungan airmata ini tidak jebol, tetapi akhirnya jebol juga ketika melihat Ibu menangis. Huaaaa sakitnya tuh disini 😥 setelah menunggu bahwa mobil yang ditumpangi keluargaku benar-benar hilang dari pandangan mata, aku naik ke lantai 2, menuju kamarku. Disana aku masih sangat canggung, apalagi efek ditinggal orang tua masih sangat berbekas. Jadi ketika teman-teman lorong dan kamar mengajakku berkenalan aku hanya menjawab seperlunya. Teman-teman yang kutemui ternyata berasal dari berbagai penjuru Indonesia, seperti dari Riau, Medan, Padang, dll.
Hari demi hari dan minggu demi minggu terlewati dengan berbagai rangkaian asrama yang bertujuan untuk mengakrabkan penghuni lorong, karena saat itu aku memang belum mulai kuliah. Kegiatan asrama itu seperti soga lorong, soga gedung, ngaji lorong, dan apel yang mengharuskan kami untuk selalu bangun pagi. Aku sangat bersyukur karena kegiatan-kegiatan itu juga sedikit mengobati rasa rinduku pada rumah dan orang tua, karena di awal-awal minggu aku masih suka menangis di atas kasur karena ingin pulang, haha. Saat disana, kami juga melewati hari Ramadhan pertama, dimana itu adalah pertama kalinya dalam seumur hidupku puasa Ramadhan jauh dari orang tua. Pagi buta penghuni lorong akan berebut membeli makanan sahur di sekitar asrama, dan sorenya kami juga jalan-jalan sore di Bara untuk membeli buka, sangat menyenangkan, tetapi juga sedih.
Dan inilah akhir kisah perjalananku untuk menemukan sebuah Universitas. Meski aku sudah mendaftar di tempat lain dan meski aku sempat bimbang untuk kuliah di IPB karena jauh dari orang tua, jika memang jodohku adalah IPB maka Allah akan memberiku jalanNya agar aku bisa sampai disini  dan insyaAllah ini merupakan jalan terbaik yang telah diskenariokan oleh Allah, aamiin… dan ternyata terlepas dari rasa rindu pada keluarga, begitu banyak hal menarik dan pelajaran yang dapat diambil selama disini. Aku pun juga tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan orang tuaku selama disini dengan bermalas-malasan untuk kuliah, AYO SEMANGAT!!! 

Advertisements

4 thoughts on “Jodoh itu, seperti aku dan IPB (Part 3) –END-

  1. Biar tampilan Beranda blog ente seru pakai “Insert Read More Tag” Ma di setiap postingan.. Jadi di Beranda atau Home blog ente tiap postingan cuma ditampilkan beberapa kalimat pertama aja.. Ira udah paham, tanya aja ke beliau kalau emg tertarik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s