BELAJAR

Belajar itu bisa dari siapa saja, termasuk belajar dari pengalaman seseorang. karena katanya pengalaman itu guru yang berharga, jadi kalau kita tak bisa mengambil pelajaran dari pengalaman maka rugilah kita, nah termasuk juga pengalaman orang lain.

Pengalaman ini dialami oleh seseorang yang telah menuju fase 1 tahap perkembangan keluarga. Iya fase 1 dalam ilmu perkembangan keluarga yang justru dimulai dari awal pernikahan, bukan dari kelahiran seseorang.

Dari pernikahannya aku semakin paham bahwa sejatinya memilih pasangan dalam pernikahan bukanlah hal yang main-main, karena dia yang menjadi pasangan inilah yang kelak akan selalu hadir dalam hari-hariku melewati tahap demi tahap fase  selanjutnya. Karena perjalanan bersama pasangan akan lebih panjang dibanding perjalanan bersama kedua orang tua, meskipun dia yang menjadi pasangan mungkin saja baru dikenal atau  bahkan belum dikenal sebelumnya.

Dari pernikahannya aku menjadi paham bahwa jodoh bukanlah untuk dipaksakan, namun diikhtiarkan dengan cara mendekati sang penentu takdir. Karena sekeras apapun usaha dilakukan, jika memang tidak ditakdirkan bersama maka tidak akan dapat bersatu. Namun sebaliknya, jika memang namanya sudah tertulis untuk menjadi takdir kita, sekeras apapun menghindar pada akhirnya akan bersama juga. Bisa jadi yang ditakdirkan adalah orang yang sama sekali tidak dikenal sebelumnya, atau orang yang hanya kita tahu namanya saja, atau bisa jadi pula orang yang ditakdirkan adalah dia yang sudah dikenal sebelumnya, atau dia yang memang selama ini sudah dekat dengan kita. Lagi-lagi, manusia hanya bisa mengupayakan, Allah lah yang memiliki hak untuk menentukan.

Dari pernikahannya inilah aku paham bahwa mencari pasangan bukanlah tentang ‘semoga dialah orangnya’, akan tetapi tentang ‘siapapun orangnya’ asalkan dia mampu menuntun menuju ridha-Nya, mampu untuk berusaha memimpinku dengan tegas namun penuh kelembutan, mampu untuk menerima segala kekurangan, mampu untuk saling bertahan, mampu untuk tidak saling menyalahkan,  sehingga mampu pula untuk berusaha membangun keluarga dengan memiliki visi surga bukan hanya visi dunia.

Dari pernikahannya aku pun menjadi tahu kalau ikhlas menjadi poin utama untuk mewujudkan visi surga ini. Ikhlas untuk melihatnya bukan karena seberapa tampan dia, bukan karena seberapa banyak harta dia, bukan karena apa status sosial dia, bukan. Karena itu hanya bersifat titipan dan tidak selamanya. Karena tampan akan pudar dimakan usia, karena harta dapat hilang oleh ketamakan, dan karena status sosial dapat hangus karena akhlak yang cela. Aku hanya ingin dia, yang setia dan lagi-lagi dapat menuntunku menggapai ridha-Nya.

Poin kedua setelah ikhlas yang kudapat adalah sabar, karena dari pernikahannya aku belajar bahwa untuk membangun visi surga, kedua pasangan harus mampu bersabar dan mengingatkan sabar, tidak bisa hanya satu pihak yang mengupayakan. Dia harus sabar menjadi pemimpin dan aku harus sabar menjadi wakil. Keduanya juga harus sabar dengan sifat masing-masing yang bisa jadi akan jauh dari dugaan. Karena memang tak mungkin seseorang tanpa cela, maka keduanya juga harus sabar untuk saling mengingatkan. Dan karena pernikahan juga tentang dua keluarga bukan tentang dua insan, maka keduanya juga harus sabar untuk membina kerukunan.

Ah tapi kalau dipikir-pikir… sok kali ya aku nulis macam begini, padahal diri ini masih jauh dari kata mampu untuk membangun visi surga tersebut, baru 1% saja sepertinya, haha haha. sok kali aku ini, padahal masih banyak juga kriteria dunia yang kuharapkan. Sok kali aku  ini, padahal terkadang makan pun masih diingatkan. sok kali aku ini, padahal sunnah pun belum konsisten dilakukan. sok kali aku ini, padahal hafalan masih jauh dari perkiraan. sok kali aku ini, padahal skripsi pun masih belum terselesaikan. Tapi lagi-lagi inilah pelajaran yang kudapat, semoga ini bisa jadi pengingat sehingga aku bisa belajar untuk menggapai visi surga ini sedikit demi sedikit.

Sok kali yaa~ haha

Advertisements

11 thoughts on “BELAJAR

  1. Sadaap San.. Bismillah semoga yg terbaik. Karena orang orang yang sabar akan mendapatkan cinta yang istimewa.-tere liye.
    P.S: Tapi ga mesti nunggu lulus loh. Ha ha

  2. Berdoa mendapatkan suami dengan mengutarakan “kriteria yg diinginkan” kepada Allah itu lebih manjur dan lebih menyenangkan San.. In syaa Allah peluang terkabulnya tinggi..

    Tapi kalau berdoa mengharapkan nama seseorang jadi suami kamu, peluang terkabulnya kecil dan kalau tidak terkabul jatuhnya sakit banget, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s